Minggu, 22 Agustus 2010

jeng

Jeng...

Aku ingin mengajakmu, menegok kembali akan kehidupan kita..
Kehidupan yg telah kita tata selama kurang lebih 1 windu ini, banyak hal yg telah kita alami seirama waktu menggulung...

Seperti yg pernah aku ikrarkan janjiku di hadapan banyak orang, yang telah menjadi saksi akan cinta kasihku kepadamu

" aku akan tetap mendampingimu baik suka maupun duka, baik sengsara atau mulia, dan mengasihimu sampai ajal memisahkan kita"

dan itu merupakan janji suci yg pernah terucap dan tak mungkin kutarik lagi dari mulutmu. Aku mengasihimu, apapun keadaan mu aku bisa menerima dan memahami

ah...maafkan aku kadang sering mendesah dan mengeluh, jika sering kudapatkan hari-harimu sering mengecewakan aku, yg kadang tidak bisa kuterima sebagai seorang manusia bahkan sebagai seorang laki2 dan kepala rumah tangga

terkadang harga diri ini harus aku kukorbankan demi permintaan-permintaan yg tak masuk akal darimu. aku memang salah, itu bukanlah suatu didikan yg baik buatmu, namun akupun tak sanggup jika senyummu menjadi pudar karena aku tak bisa memenuhi permintaan mu

Jeng...

Aku tak mau kehilangan senyumanmu..senyuman yg membuat hari-hari ku menjadi indah, senyuman yang mebuat hatiku sebagi laki-laki menjadi luluh dan bersimpuh..senyuman yg selalu mengajakku untuk mengucapkam kaya..."iya.."
akan kugantikan dengan apakah ijka aku kehilangan akan senyum mu?

Rasanya banyak yg aku perbuat terhadapmu,dan seharusnya tak perlu aku ungkap itu, karena itu sudah menjadi bagian hidupku, namun itu semua tidak aku hitung seperti aku menghitungnya dalam laporan Laba Rugi. Aku ikhlas melakukan ini semua demi kau yg kukasihi...

Jeng...

Dalam hal ini bolehkan aku meminta? Akan semua yg telah aku perbuat terhadapamu? Aku mohon..berikan sedikit hormatmu kepadaku ..dari seorang istri kepada suami...

Aku tidak ingin kau salah pengertian akan permintaan ku ini, namun aku tetap menjaga engkau, smentara mulut-mulut di luar banyak mencerca akan keberadaan mu. Aku tetap melindungi kau..juga melindungi anak kita...

Aku telah mengganggapnya itu sebagai anak kita..dan kau pun tak sadar, bahwa aku telah tau akan semua ini...

Seperti telah aku memilikimu, maka anak yg pernah ada di dalam rahimmu pun aku akui sebagai anak ku..

Jeng...

Tanpa sepengetahuanmu..aku telah memeriksakan diri, bahwa sesungguhnya aku tak mampu memberimu seorang keturunan, jadi yg jadi pertanyaanku...siapakah yg telah menyemai benih itu di dalam rahimmu? Dan selama ini kau telah bersandiwara seolah-olah anak ini adalah dari benihku?

Jeng...aku mandul..dan itu sangat menyakitkan hati..tambah sakit karena ada anak yg bukan dari benihku...dan sekarang hidup diantara kehidupan kita, dan kau diam-diam menyimpan rahasia itu

Apa yg akan kau katakan jika kau mengetahui kebenaran ini? Selama ini aku diam, aku mengalah..aku nrima.....bukan karena aku kalah..Kalaupun sebagai laki-laki dengan kuasaku aku menceraikan mu pun, aku bisa lakukan saat ini. Kurang apakah aku? Pengacara mana yg tak takluk kepadaku? Ya...karena memang aku ber duit....

Namun itu semua tak kulakukan, aku mengasihimu..aku mengampunimu..biarlah anak itu juga menjadi anakku, dia tidak tau apa-apa, dia hanyalah korban dari nafsu ibunya yg serakah...biarlah anak itu juga menerima kasih sayangku, seperti yg pernah aku berikan kepadamu..dan biarlah dia hidup layak, dan tidak dianggap sebagai anak Jadah....

Jeng....

sekali waktu, pertemukan aku dengan bapak dari anakmu.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar