Kangmas.....
Kau bangun sebuah pondok kecil...diujung desa...diantara sawah-sawah...
tempat kita memelihara kasih buah cinta kita..
diantara dengung kumbang sawah dan gemerik air sungai ..
Kau pahat sebuah diri membentuk citra
cinta ibu Pertiwi
Kubiarkan anak kita bermain di sawah,
mencari belut, dalam gelak tawa tanah yg basah..dan sapaan mentari..senyumnya merekah puas..menikmati liat yg terinjak,
dan 1 belut mengeliat tertangkap tangan mungilnya..
" Ibu aku dapat" dalam teriak girangnya,
tubuh dan kakinya yg telanjang adalah seragam harian untuk bersatu dengan alam..
dia begitu legam dengan rasa puas yg terpancar
Hatikupun merindu akan gemericik air pancuran di sawah..
yg bercerita ttg bebatuan..tanah..dan cacing..yg membawa dlm keheningan jiwa yg bening..
Dan aku menari diantara hamparan padi yg menguning..sawah kita..
lahan kecil unt masa depan bocah kita agar tetap bisa bersekolah..
Ketika malam menjelang...
Kau kumpulkan buah cinta kita di teras..
Dalam dengung adzan magrib berkumandang..
Kau torehkan dongeng...jatayu yang menyelamatkan Shinta...
sebagai bekal mimpi2 mereka di malam kelam
Dan malam semakin beringsut...
berlabuh dalam pelukanmu, diantara tabur bintang..dalam malam kelam, diantara angin yg yg berbisik....
dan kita berbincang tentang kita..
kita yg terbungkus oleh waktu2 berlalu, hadirkan cinta abadi yg terlalui, dan biaskan binar2 kasih..
kita yg akan selalu ciptakan senyum bocah2 kita dengan mata berbinar akan masa depan.
.kita dlm romansa yg tak akan pudar oleh waktu,
dan aku selalu menunggu dalam rengkuhanmu..
Lewat tembang Dandanggula..
Kau bisikkan tuladha hidup..
bias kidungnya menyusup dlam relung yang dalam
berikan teduh untuk jiwa yg gundah..
dan dalam dekap tanganmu yg kesat
malam ini aku terlelap ...
(masih sesaat terdengar ..bisikanmu di telinga.."aku tresna sliramu diajeng" di dalam elusan di rambutku)
Kau bangun sebuah pondok kecil...diujung desa...diantara sawah-sawah...
tempat kita memelihara kasih buah cinta kita..
diantara dengung kumbang sawah dan gemerik air sungai ..
Kau pahat sebuah diri membentuk citra
cinta ibu Pertiwi
Kubiarkan anak kita bermain di sawah,
mencari belut, dalam gelak tawa tanah yg basah..dan sapaan mentari..senyumnya merekah puas..menikmati liat yg terinjak,
dan 1 belut mengeliat tertangkap tangan mungilnya..
" Ibu aku dapat" dalam teriak girangnya,
tubuh dan kakinya yg telanjang adalah seragam harian untuk bersatu dengan alam..
dia begitu legam dengan rasa puas yg terpancar
Hatikupun merindu akan gemericik air pancuran di sawah..
yg bercerita ttg bebatuan..tanah..dan cacing..yg membawa dlm keheningan jiwa yg bening..
Dan aku menari diantara hamparan padi yg menguning..sawah kita..
lahan kecil unt masa depan bocah kita agar tetap bisa bersekolah..
Ketika malam menjelang...
Kau kumpulkan buah cinta kita di teras..
Dalam dengung adzan magrib berkumandang..
Kau torehkan dongeng...jatayu yang menyelamatkan Shinta...
sebagai bekal mimpi2 mereka di malam kelam
Dan malam semakin beringsut...
berlabuh dalam pelukanmu, diantara tabur bintang..dalam malam kelam, diantara angin yg yg berbisik....
dan kita berbincang tentang kita..
kita yg terbungkus oleh waktu2 berlalu, hadirkan cinta abadi yg terlalui, dan biaskan binar2 kasih..
kita yg akan selalu ciptakan senyum bocah2 kita dengan mata berbinar akan masa depan.
.kita dlm romansa yg tak akan pudar oleh waktu,
dan aku selalu menunggu dalam rengkuhanmu..
Lewat tembang Dandanggula..
Kau bisikkan tuladha hidup..
bias kidungnya menyusup dlam relung yang dalam
berikan teduh untuk jiwa yg gundah..
dan dalam dekap tanganmu yg kesat
malam ini aku terlelap ...
(masih sesaat terdengar ..bisikanmu di telinga.."aku tresna sliramu diajeng" di dalam elusan di rambutku)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar